Rabu, 20 Agustus 2014

Gigantasophobia

Aku punya hobby, lebih tepatnya rutinitas di sosial media. Waktu itu aku sedang membuka tab mention, dan ada salah satu teman yang mementionkan namaku dalam sebuat tweet. Isi tweet itu tentang pengertian Gigantasophobia. Membaca kata gigant, tentu saja ada refleks khusus yang menunjuk pada satu figure yang sudah akrab di kepalaku.

Tahu nggak Gigantasophobia itu apa? Gigantasophobia itu pernyakit psikologis yang menyebabkan penderitanya merasa takut terhadap orang yang berpostur tinggi besar. Dan temanku menyarankan agar aku mengidap penyakit itu. Kenapa?

Jemariku berhenti bergerak, dan kedua mataku terdiam menatap kata “gigant” dan perlahan mulai meleleh lalu menetes. Saat ini aku ingin menuliskan tentang yang dulu. Entah, untuk saat ini semua hal yang dulu jadi menyenangkan sekali. Apalagi ketika jemariku mulai berisik dengan suara cetukannya, dan beberapa ingatan tentang masa lalu mulai hadir ketika mereka dipanggil. Menurutku ini menyenangkan, entah menurutmu.

Sayangnya, kenyataan yang sedang terjadi saat ini kembali membatasi ruang gerakku dalam memanggil yang namanya masa lalu itu.

Kamu adalah sosok teman yang kutemukan dengan cara yang paling unik. Kamu juga jago dalam menarik perhatianku, menyita semua rasa ingin tahuku. Kamu teman yang memperlihatkan padaku betapa indahnya Jalanan Adi Sucipto usai jingga dan senja berhenti bercerita. Kamu teman yang tiba – tiba tahu seluk belukku, mengacak – acak pemikiran yang ku tata rapi yang ku kira tak ada orang selain aku dan Tuhan yang tahu.

Mungkin kamu masih ingat kalau kamu dan aku sering berdebat dan berakhir dengan kedudukan yang sama-sama menggantung tak mau mengalah. Atau tingkahku yang selalu mengganggu. Keberadaanku yang berusaha menyelip diantara macam – macam persoalan yang hendak kamu pecahkan. Atau kebiasaan anehku (kata kunci : bahu).

Waktu, aku menangisimu. Entah mengapa akhir – akhir ini aku selalu didatangi rasa sedih, dan kehilangan. Yang biasa aku rasakan saat kehilangan sesuatu yang berharga.

Seolah ini semua salahku. Aku ini pelupa, dan aku lupa apa yang sebenarnya aku lakukan sampai semuanya jadi seperti ini. Apa yang sudah aku lakukan hingga membuat mu benar – benar membangun tembok dari keberadaanku. Aku tahu kamu pun juga tahu, aku menganggapmu mirip dengan anak cina itu namun bukan berarti aku menaruh rasa yang sama seperti yang aku punya untuk anak cina itu. Aku takut jika alasanmu ternyata adalah tentang hal itu.

Aku tidak berharap kamu merubah pikiranmu, aku juga tidak berharap untuk mengulang yang sudah lalu.

Dulu,

Aku selalu kekanak-kanakan jika ada kamu.

Aku selalu tertawa setiap melihatmu, apapun kondisimu, apapun kondisiku.

Aku selalu saja menuntut perhatianmu.

Aku harus duduk disebelahmu dan menjatuhkan kepala tepat dibahumu.

Aku adalah masha dan kamu adalah bear.

Aku itu Laluna dan kamu Drewanda.

Kita teman, mungkin sahabat.

Sekarang,

Aku bersikap sesuai dengan umurku.

Aku cukup tersenyum bahkan mengalihkan pandangan darimu.

Aku pasti sibuk sendiri.

Aku lebih memilih berdiri sampai lelah dan menyangga kepalaku yang berat dengan tanganku atau menyandarkannya didinding.

Aku bukan masha dan kamu bukan bear.

Aku bukan Laluna dan kamu bukan Drewanda.

Kita masih teman, dan selamanya sahabat.


Selamat ulang tahun, merupakan karunia terindah dari Tuhan karena aku telah diberi kesempatan untuk bisa bersahabat dengan malaikat tanpa sayap seperti kamu, kawan. Semoga rasa kehilangan ini hanya sebuah ilusi karena penyakit psikisku, semoga kamu tetap jadi temanku sampai akhir waktu. Gigantasophobia, 20 Agustus 2014.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar