Aku
punya hobby, lebih tepatnya rutinitas di sosial media. Waktu itu aku sedang membuka tab mention, dan ada salah satu teman yang
mementionkan namaku dalam sebuat tweet. Isi tweet itu tentang pengertian Gigantasophobia.
Membaca kata gigant, tentu saja ada refleks khusus yang menunjuk pada satu
figure yang sudah akrab di kepalaku.
Tahu
nggak Gigantasophobia itu apa? Gigantasophobia itu pernyakit psikologis yang
menyebabkan penderitanya merasa takut terhadap orang yang berpostur tinggi
besar. Dan temanku menyarankan agar aku mengidap penyakit itu. Kenapa?
Jemariku
berhenti bergerak, dan kedua mataku terdiam menatap kata “gigant” dan perlahan
mulai meleleh lalu menetes. Saat
ini aku ingin menuliskan tentang yang dulu. Entah, untuk saat ini semua hal yang dulu jadi
menyenangkan sekali. Apalagi ketika jemariku mulai berisik dengan suara
cetukannya, dan beberapa ingatan tentang masa lalu mulai hadir ketika mereka
dipanggil. Menurutku ini menyenangkan, entah menurutmu.
Sayangnya,
kenyataan yang sedang terjadi saat ini kembali membatasi ruang gerakku dalam
memanggil yang namanya masa lalu itu.
Kamu
adalah sosok teman yang kutemukan dengan cara yang paling unik. Kamu juga jago
dalam menarik perhatianku, menyita semua rasa ingin tahuku. Kamu teman yang
memperlihatkan padaku betapa indahnya Jalanan Adi Sucipto usai jingga dan senja
berhenti bercerita. Kamu teman yang tiba – tiba tahu seluk belukku, mengacak –
acak pemikiran yang ku tata rapi yang ku kira tak ada orang selain aku dan
Tuhan yang tahu.
Mungkin
kamu masih ingat kalau kamu dan aku sering berdebat dan berakhir dengan
kedudukan yang sama-sama menggantung tak mau mengalah. Atau tingkahku yang
selalu mengganggu. Keberadaanku yang berusaha menyelip diantara macam – macam
persoalan yang hendak kamu pecahkan. Atau kebiasaan anehku (kata kunci : bahu).
Waktu,
aku menangisimu. Entah mengapa akhir – akhir ini aku selalu didatangi rasa
sedih, dan kehilangan.
Yang biasa aku rasakan saat kehilangan sesuatu yang berharga.
Seolah
ini semua salahku. Aku ini pelupa, dan aku lupa apa yang sebenarnya aku lakukan
sampai semuanya jadi seperti ini. Apa yang sudah aku lakukan hingga membuat mu
benar – benar membangun tembok dari keberadaanku. Aku tahu kamu pun juga tahu,
aku menganggapmu mirip dengan anak cina itu namun bukan berarti aku menaruh
rasa yang sama seperti yang aku punya untuk anak cina itu. Aku takut jika
alasanmu ternyata adalah tentang hal itu.
Aku
tidak berharap kamu merubah pikiranmu, aku juga tidak berharap untuk mengulang
yang sudah lalu.
Dulu,
Aku
selalu kekanak-kanakan jika ada kamu.
Aku
selalu tertawa setiap melihatmu, apapun kondisimu, apapun kondisiku.
Aku
selalu saja menuntut perhatianmu.
Aku
harus duduk disebelahmu dan menjatuhkan kepala tepat dibahumu.
Aku
adalah masha dan kamu adalah bear.
Aku
itu Laluna dan kamu Drewanda.
Kita
teman, mungkin sahabat.
Sekarang,
Aku
bersikap sesuai dengan umurku.
Aku
cukup tersenyum bahkan mengalihkan pandangan darimu.
Aku pasti
sibuk sendiri.
Aku
lebih memilih berdiri sampai lelah dan menyangga kepalaku yang berat dengan
tanganku atau menyandarkannya didinding.
Aku
bukan masha dan kamu bukan bear.
Aku
bukan Laluna dan kamu bukan Drewanda.
Kita
masih teman, dan selamanya sahabat.
Selamat
ulang tahun, merupakan karunia terindah dari Tuhan karena aku telah diberi kesempatan
untuk bisa bersahabat dengan malaikat tanpa sayap seperti kamu, kawan. Semoga rasa kehilangan ini hanya sebuah ilusi karena penyakit psikisku, semoga kamu tetap jadi temanku sampai akhir waktu. Gigantasophobia, 20 Agustus 2014.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar