MAKALAH
PENGEMBANGAN
PARAGRAF
Disusun
Untuk Memenuhi Tugas mata kuliah Bahasa Indonesia
Dosen
Pengampu : Umar
Samadhy, M.Pd

Disusun Oleh :
1.
Jeni Lestari 1201415038
2.
Rara Fitriana Nur Utami 1511415005
3.
Resi Masdiyanti Pratiwi 7101415102
UNIVERSITAS NEGERI
SEMARANG
2016
KATA PENGANTAR
Puji syukur Alhamdulillah kami panjatkan kepada Alloh SWT, atas terselesaikannya
Makalah Pengembangan Paragraf ini. Penulisan makalah ini disusun guna memenuhi
tugas Mata Kuliah Bahasa Indonesia. Oleh karena itu, penulisan Makalah ini
diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif panduan dan menambah wawasan
dalam menulis paragraf.
Makalah ini mengulas
antara lain tentang:
1.
Pengertian
dan kegunaan paragraf
2.
Macam-macam
paragraf
3.
Syarat
pembentukan paragraf
4.
Letak
kalimat utama
5.
Cara
mengembangkan paragraf
Mudah-mudahan Makalah ini
dapat bermanfaat bagi pembaca. Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima
kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan baik secara materiil
maupun moril dalam penulisan Makalah ini.
29 Maret 2016
Penyusun
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
.........................................................................................
i
KATA PENGANTAR .......................................................................................
ii
DAFTAR ISI ...................................................................................................... iii
BAB I. PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah ......................................................................... 1
B.
Rumusan Masalah ...................................................................................
1
C.
Tujuan
Penulisan .....................................................................................
1
BAB II.
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Paragraf ................................................................................. 3
B.
Unsur-unsur
Paragraf ............................................................................. 3
C.
Asas-asas Paragraf................................................................................... 4
D.
Kegunaan
Paragraf..................................................................................
6
E.
Macam-macam
Paragraf .........................................................................
7
F.
Syarat-syarat
Pembentukan Paragraf.......................................................
8
G.
Letak
Kalimat Utama .............................................................................
8
H.
Mengembangkan
Paragraf ......................................................................
10
BAB III.
PENUTUP
1.
Kesimpulan..............................................................................................
20
2.
Saran ....................................................................................................... 20
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................
21
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Paragraf
merupakan suatu karangan yang paling singkat. Dengan adanya paragraf, kita
dapat membedakan dimana suatu gagasan mulai dan berakhir. Kita akan merasa
kesulitan membaca suatu tulisan atau buku jika tidak ada suatu paragraf. Oleh
sebab itu, kita perlu mempelajari paragraf baik kegunaan, macam-macam, syarat
pembentukan paragraf dan pengembangan paragraf.
Selama
ini masik banyak orang yang asal-asalan dalam menyusun paragraf. Hal itu
dikarenakan karena kurang pahamnya dalam memahami makna paragraf itu sendiri.
Dalam makalah ini, kami akan membahas tentang paragraf. Pembahasan akan kami
mulai dari hal yang paling sederhana yaitu pengertian paragraf, kegunaan,
macam-macam hingga syarat-syarat paragraf dan pengembangan paragraf itu
sendiri.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa saja
macam-macam paragraf dan kegunaanya?
2.
Bagaimanakah
syarat pembentukan paragraf yang baik?
3.
Dimanakah
letak kalimat utama dari suatu paragraf?
4.
Bagaimana
cara mengembangkan suatu paragraf?
C.
Tujuan Penulisan Masalah
Makalah
ini disusun ntuk memberi penjelasan kepada pembaca tentang paragraf dan cara pengembangannya sehingga dapat
mempermudah dalam penulisan suatu karya ilmiah atau karangan lainnya. Sementara
bagi penulis, tujuan penyusunan Makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata
kuliah Bahasa Indonesia dan pendalaman materi tentang pengembangan paragraf.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Paragraf
Paragraf
merupakan inti penuangan buah pikiran dalam sebuah karangan. Dalam suatu
paragraf terkandung satu unit buah pikiran yang didukung oleh semua kalimat
dalam paragraf tersebut, mulai dari kalimat pengenal, kalimat utama atau topik,
kalimat-kalimat penjelas sampai pada kalimat penutup. Himpunan kalimat ini
saling terikat dalam suatu rangkaian untuk membentuk sebuah gagasan
(Akhadiah dkk, 1991:144).
Paragraf
dapat disebut juga dengan istilah alinea. Alinea adalah kesatuan pikiran yang
lebih tinggi atau lebih luas dari kalimat. Alinea merupakan himpunan dari
kalimat-kalimat yang bertalian dalam suatu rangkaian untuk membentuk sebuah
ide.
Paragraf
dapat juga dikatakan karangan yang paling pendek (singkat). Dengan adanya
paragraf, kita dapat membedakan di mana suatu mulai dan berakhir.
B. Asas-asas Paragraf
Dalam mengelola paragraf yang baik perlu menerapkan
enam asas yang berkenaan dengan gagasan. Keenam asas tersebut lebih menyangkut
tatanan dalam menyampaikan gagasan. Keenam asas dalam menuangkan gagasan dalam
paragraf, adalah sebagai berikut:
1)
Kejelasan, berarti sifat tidak
samar-samar sehingga tiap butir fakta dan pendapat yang dikemukakan seakan-akan
tampak nyata oleh pembaca. Karangan tersebut mudah dipahami dan tidak
mungkin disalah tafsirkan.
2) Keringkasan, berarti karangan
tersebut tidak pendek atau singkat, melainkan bahwa karangan itu tidak berboros
kata, tidak berlebih-lebihan dengan ungkapan, tidak mengulang-ulang butir ide
yang sama, tidak berputar-putar dalam menyampaikan gagasan.
3)
Ketepatan, artinya bahwa karangan dapat menyampaikan butir-butir pengetahuan
kepada pembaca dengan kecocokan sepenuhnya seperti maksud penulis. Ketepatan
juga meliputi ketepatan menaati tata aturan tata bahasa, ejaan, dan
tanda.
4)
Kesatupaduan, Artinya bahwa segala sesuatu yang disajikan dalam karangan harus
berkisar, bergayutan dan relevan dalam satu gagasan pokok atau
pikiran utama karangan.
5)
Pertautan, atau koherensi, asas yang menghendaki agar ada saling kait antar
kalimat dalam paragraf dan antar paragraf. Pertautan menghendaki agar jangan
sampai ada kata atau frasa yang tidak jelas rujukannya.
6)
Harkat, asas yang menghendaki karangan benar-benar berbobot, kita harus
menerapkan hukum DM dalam membangun paragraf, dengan satu D dan jumlah M yang
memadai, yang lengkap. Asas harkat juga asas pengembangan yang memadai.
C. Kegunaan
Paragraf
Paragraf juga dapat dikatakan sebagai sebuah
karangan yang paling pendek(singkat). Dengan adanya paragraf, kita dapat
membedakan dimana suatu gagasan mulai dan berakhir. Kita akan kepayahan membaca
tulisan atau buku, kalau tidak ada paragraf. Kita pun susah memusatkan pikiran
pada satu gagasan ke gagasan lain. Dengan adanya paragraf, kita dapat berhenti
sebentar sehingga kita dapat memusatkan pikiran tetang gagasan yang terkandung
dalam paragraf itu.
Selain itu, paragraf juga dapat berfungsi sebagai
tanda pembukaan topik baru, atau pengembangan lebih lanjut topik sebelumnya.
Paragraf juga bisa berfungsi untuk menambah hal-hal yang penting atau untuk
merinci apa yang sudah diutarakan dalam paragraf sebelumnya.
Lebih lanjut, Widjono (2007: 175) menjelaskan bahwa
paragraf juga bisa berfungsi sebagai berikut.
1.
Mengekspresikan gagasan tertulis dengan memberi bentuk satuan pikiran dan
perasaan ke dalam serangkaian kalimat yang tersusun secara logis, dalam satu
kesatuan.
2. Menandai
peralihan (pergantian) gagasan baru lagi karangan yang etrdiri dari beberapa
paragraf. Ganti paragraf berarti ganti pikiran
3. Memudahkan pengorganisasian gagasan bagi penulis, dan memudahkan pemahaman bagi pembaca.
3. Memudahkan pengorganisasian gagasan bagi penulis, dan memudahkan pemahaman bagi pembaca.
4. Memudahkan
pengembangan topik karangan ke dalam satuan-satuan unit pikiran yang lebih kecil.
5. Memudahkan
pengendalian variabel, terutama karangan yang terdiri dari beberapa variabel.
Supaya lebih jelas, perhatikan contoh 1 berikut!
Dalam
pertarungan matador yang resmi, biasanya ada enam ekor banteng yang dibunuh
oleh tiga orng laki-laki. Setiap laki-laki membunuh dua ekor banteng.banteng
itu harus memenuhi syarat-syarat tertentu, yaitu: berumur 4-5 tahun, tidak
cacat, dan telah mempunyai tanduk yang runcing serta bagus. Banteng-banteng ini
telah diperiksa oleh dokter hewan setempat sebelum bertanding. Dokter hewan
berhak menolak banteng yang tidak memenuhi syarat, misalnya: masih dibawah
umur, tanduk masih lemah, ada kelainan di mata, atau penyakit yang nyata
kelihatan.
Laki-laki
yang bertugas membunuh mereka disebut matador. Pilihan banteng yang akan mereka
bunuh tergantung hasil undian. Setiap matador mempunyai tiga orang candrilla
yang terdiri dari lima-enam orang yang dibayar dn diperintah oleh matador. Tiga
dan lima/enam orang tersebut menolongnya dilapangan, dengan memakai mantel
tanpa lengan dan atas perintahnya menempatkan banderillas yaitu kayu yang
panjangnya tiga kaki dengan ujung yang tajam dan berbentuk garpu yang disebut
peones atau banderilleos. Yang dua lagi dinamakan picadors, mereka muncul
dengan menunggang kuda di arena. (Earnest emingway, The Bullfight)
Dari contoh diatas, dapat dilihat peralihan antara
paragraf pertama dan paragraf kedua. Paragraf
pertama bercerita tentang banteng, sedangkan paragraf kedua tentang laki-laki
yang bertugas membunuh banteng (matador). Paragraf pertama dan kedua pun
terlihat berhubungan erat.
Perhatikan pula contoh 2 berikut!
Tanda-tanda
lalu lintas agaknya sudah dijadikan sebagai simbol(lambang) yang berlaku
dimana-mana dan mudah dipahami. Setiap pengendara atau masyarakat mengetahui
arti dan fungsinya. Sekarang timbul pertanyaan, apakah sebetulnya simbol itu?
Dengan singkat dapat dikatakan bahwa simbol ialah sesuatu yang pengandung arti
lebih dari yang terdapat dalam fakta. Di sekeliling kita banyak simbol-simbol
yang digunakan manusia untuk berkomunikasi. Simbol yang pemakaiannya begitu
umum terdapat juga dalam puisi. Bahkan dalam puisi, pemakaian simbol cukup
dominan. Justru disinilah letak unsur seninya, karena simbol itu erat sekali
hubungannya dengan tujuan penyair untuk menyuarakan sesuatu secara tepat yang
berkaitan erat dengan pengimajiannya.
Dari contoh di atas dapat dilihat bahwa penulis menambahkan hal-hal yang penting untuk memerinci apa yang diutarakan dalam paragraf terdahulu. Penulis menguraikan hal-hal yang berkaitan dengan paragrafpertama dan memberikan contoh yang spesifik penggunaan simbol dalam bidang lain yaitu puisi.
Dari contoh di atas dapat dilihat bahwa penulis menambahkan hal-hal yang penting untuk memerinci apa yang diutarakan dalam paragraf terdahulu. Penulis menguraikan hal-hal yang berkaitan dengan paragrafpertama dan memberikan contoh yang spesifik penggunaan simbol dalam bidang lain yaitu puisi.
D. Macam-macam
Paragraf
Berdasarkan
tujuannya, paragraf dapat dibedakan menjadi :
1. Paragraf Pembuka
Paragraf pembuka memiliki peran sebagai
pengantar bagi pembaca untuk sampai pada masalah yang akan diuraikan oleh penulis. Untuk itu, paragraf
pembuka harus dapat menarik minat dan perhatian pembaca, serta sanggup mempersiapkan pikiran pembaca
kepada masalah yang akan diuraikan. Paragrap pembuka
ini tidak terlalu panjang agar pembaca tidak merasa bosan. Di samping untuk
menarik perhatian pembaca,
paragraf pembuka juga berfungsi untuk menjelaskan tentang tujuan
dari penulisan itu.
2. Paragraf Penghubung
Paragraf penghubung berfungsi menguraikan
masalah yang akan dibahas
oleh seorang penulis. Paragraf
penghubung berisi inti persoalan yang akan dibahas oleh penulis diuraikan dalam paragraf ini. Oleh
sebab itu, secara kuantitatif paragraf
ini merupakan paragraf yang paling panjang, antara paragraf
dengan antar paragraf harus saling berhubungan secara logis.
3. Paragraf Penutup
Paragraf penutup bertujuan untuk mengakhiri
sebuah karangan/tulisan. Paragraf ini bisa berisi tentang kesimpulan masalah
yang telah dibahas dalam paragraf penghubung, atau bisa juga berupa penegasan
kembali hal-hal yang dianggap penting dalam uraian-uraian sebelumnya.
E. Syarat-syarat
Pembentukan Paragraf
1. Kesatuan
Tiap paragraf
hanya mengandung satu gagasan pokok.
Fungsi paragraf adalah untuk mengembangkan gagasan pokok tersebut. Untuk itu,
di dalam pengembangannya, uraian-uraian dalam
sebuah paragraf tidak boleh menyimpang dari gagasan
pokok tersebut. Dengan kata lain, uraian-uraian dalam sebuah paragraf diikat
oleh satu gagasan pokok dan merupakan
satu kesatuan. Semua kalimat yang terdapat dalam sebuah paragraf harus terfokus pada gagasan pokok.
2. Kepaduan
Syarat kedua yang harus dipenuhi oleh suatu
paragraf ialah koherensi atau kepaduan. Sebuah paragraf
bukanlah sekedar kumpulan atau tumpukan kalimat-kalimat yang masing-masing
berdiri sendiri-sendiri, tetapi dibangun oleh
kalimat-kalimat yang mempunyai hubungan timbal balik. Urutan pikiran yang teratur akan memperlihatkan
adanya kepaduan, dan pembaca pun dapat dengan
mudah memahami/mengikuti jalan pikiran penulis tanpa hambatan karena adanya perloncatan pikiran yang membingungkan.
3. Kelengkapan
Suatu paragraf dikatakan lengkap jika berisi kalimat-kalimat
penjelas yang cukup untuk menunjang kejelasan kalimat topik/gagasan utama. Sebaliknya suatu paragraf dikatakan tidak lengkap, jika
tidak dikembangkan atau diperluas dengan pengulangan-pengulangan.
Contoh :
Suku
Dayak tidaktermasuk suku yang suka bertengkar. Mereka tidak suka berselisih
atau bersengketa.
Paragraf
di atas merupakan contoh paragraf yang hanya diperluas dengan pengulangan.
F. Letak Kalimat
Utama
Sebuah paragraf dibangun dari beberapa kalimat yang saling berhubungan dan hanya mengandung satu pikiran utama dan dijelaskan oleh beberapa pikiran
penjelas. Pikiran utama itu dituangkan ke dalam kalimat utama dan pikiran-pikiran penjelas atau perincian dituang
ke dalam kalimat-kalimat penjelas.
Ada empat cara untuk
meletakkan kalimat utama, yaitu :
1. Pada awal paragraf
Paragraf dimulai dengan mengemukakan persoalan pokok atau
kalimat utama. Kemudian diikuti oleh kalimat-kalimat panjelas yang berfungsi
menjelaskan pikiran utama.paragraf ini bersifat deduktif, dari yang umum kepada
yang khusus.
Kosa
kata memegang peranan dan merupakan unsur yang paling mendasar dalam kemampuan berbahasa, khususnya dalam karang mengarang. Jumlah kosa kata yang dimiliki seseorang akan menjadi petunjuk tentang pengetahuan seseorang.
Di samping itu, jumlah kosa kata yang dikuasai
seseorang juga akan menjadi indikator bahwa orang itu mengetahui sekian banyak konsep. Semakin banyak kosa kata yang dikuasai,
semakin tinggi pula tingkat pengetahuan seseorang.
Dengan demikian, seorang penulis akan mudah memilih kata-kata yang tepat/cocok untuk mengungkapkan gagasan yang ada di dalam
pikirannya.
2. Pada Akhir Paragraf
Paragraf dimulai dengan kalimat-kalimat penjelas.
Kemudian diikuti oleh kalimat utama. Paragraf ini biasanya bersifat induktif,
dari yang khusus ke yang umum.
Pada
waktu anak memasuki dunia pendidikan, pengajaran bahasa Indonesia secara
metodologis dan
sistematis bukanlah merupakan halangan baginya untuk memperluas dan memantapkan bahasa daerahnya. Setelah anak didik
meninggalkan kelas, ia kembali mempergunakan bahasa daerah, baik dalam pergaulan dengan
teman-temannya atau dengan orang tuanya. Ia merasa lebih intim dengan bahasa daerah. Jam sekolah berlangsung
beberapa jam. Baik waktu istirahat maupun
di antara jam-jam pelajaran, unsur-unsur bahasa daerah tetap menerobos.
Ditambah lagi jika
sekolah itu bersifat homogen dan gurunya pun penutur asli bahasa daerah itu. Faktor-faktor inilah yang menyebabkan pengetahuan si anak
terhadap bahasa daerahnya akan melaju terus dengan
cepat.
3. Pada Awal dan Akhir Paragraf
Peningkatan
taraf pendidikan para petani, dirasakan sama pentingnya dengan usaha
peningkatan taraf hidup mereka. Petani yang berpendidikan cukup, dapat mengubah
sistem pertanian tradisional misalnya bercocok tanam hanya untuk memenuhi
kebutuhan pangan, menjadi petani modern yang produktif. Petani yang
berpendidikan cukup, mampu menunjang pembangunan secara positif. Mereka dapat
memberikan umpan balik yang setimpal terhadap gagasan-gagasan yang dilontarkan
perencana pembangunan, baik ditingkat pusat maupun ditingkat daerah. Itulah
sebabnya, peningkatan taraf pendidikan.
4. Tanpa Kalimat Utama
Paragraf ini tidak memiliki kalimat utama. Berarti
pikiran utama tersebar di seluluh kalimat yang membangun paragraf tersebut.
Bentuk ini biasanya digunakan dalam karangan yang berbentuk narasi (yang
berbentuk cerita) atau deskripsi (yang berbentuk pelukisan). Pikiran utama
didukung oleh semua kalimat.
Keributan
ayam berkeruyuk bersahut-sahutan mengendur. Kian lama kian berkurang. Akhirnya
tinggal satu-satu saja terdengar kokok yang nyaring. Dan ayam-ayam itu sudah
mulai turun dari kandangnya, pergi ke ladang dan pelataran. Dengung dan ruang
lalu lintas di jalan raya kembali menggila seperti kemarin. Raung klakson mobil
dan suara kereta api bergema-gema menerobos ke relun-relung rumah sepanjang
jalan. Sayup-sayup terdengar dentang lonceng gereja menyongsong hari baru dan
menyatakan selamat tinggal pada hari kemarin.
Paragraf di atas dibangun oleh beberapa kalimat yang
semuanya menjelaskan tentang suasana di pagi hari. Jadi, pikiran utama tersebar
di dalam beberapa kalimat yang membangun paragraf itu.
G. Mengembangkan
Paragraf
Salah satu cara berlatih mengembangkan paragraf dapat dilakukan
dengan membuat kerangka paragraf dahulu
sebelum menulis paragraf itu. Sebagai contoh dapat dilihat paparan di bawah
ini.
Kerangka paragraf
Pikiran utama : Keindahan alam di
Tawangmangu makin surut
Pikiran penjelas :
1. manusia
telah mengubah segala-galanya
2. hutan,
sawah, dan ladang tergusur
3. pohon-pohon
tidak ada lagi
4. pagar
bunga sudah diganti
5. gedung-gedung
mewah dibangun
Pengembangan paragraf:
Bernostalgia tentang indahnya
alam di Tawangmangu hanya akan menimbulkan kekecewaan saja. Dalam kurun waktu 25 tahun, dinamika
kehidupan manusia telah mengubah segala-galanya. Hutan,
sawah, dan ladang telah tergusur oleh berbagai bentuk bangunan. Ranting dan
cabang pohon telah berganti dengan jeruji besi. Pagar
tanaman dan bunga yang dulu bermekaran dengan indahnya
telah diterjang tembok beton yang kokoh. Batu-batu gunung telah menghadirkan gedung plaza megah yang menelan biaya triliunan rupiah. Arus modernisasi dengan angkuhnya telah menelan kemesraan dan indahnya alam ini.
Dalam mengembangkan paragraf dapat dilakukan dengan
memperhatikan hal-hal berikut:
a) Susunlah kalimat topik dengan baik dan layak (jangan terlalu spesifik sehingga sulit dikembangkan,jangan pula terlalu luas sehingga memerlukan penjelasan yang panjang lebar).
a) Susunlah kalimat topik dengan baik dan layak (jangan terlalu spesifik sehingga sulit dikembangkan,jangan pula terlalu luas sehingga memerlukan penjelasan yang panjang lebar).
b) Tempatkanlah kalimat topik tersebut dalam posisi yang
menyolok dan jelas dalam sebuah paragraf.
c) Dukunglah kalimat topik tersebut dengan detail-detail atau
perincian-perincian yang tepat.
d) Gunakan kata-kata transisi, frase, dan alat lain di dalam
dan di antara paragraf.
Teknik Pengembangan Paragraf
Beberapa
teknik cara yang dapat dilakukan seorang penulis dalam mengembangkan paragraf
adalah:
I. Teknik Alamiah
Teknik alamiah merupakan pengembangan paragraf berdasarkan
urutan ruang dan waktu.urutan seperti ini biasa disebut dengan istilah
kronologis. Adapun keruntutan penyampaian informasi diharapkan memudahkan
pemahaman pembaca.
a) urutan ruang(spasial)
a) urutan ruang(spasial)
Yang membawa pembaca dari satu titik ke titik berikutnya yang
berdekatan dalam sebuah ruang.misalnya gambaran dari depan ke belakang,dari
luar ke dalam,dll.
Contoh:
Bangunan itu terbagi dalam empat ruang.pada ruang pertama yang sering disebut dengan bangsal srimanganti, terdapat dua pasang kursi kayu ukiran jepara. Ruangan ini sering digunakan adipati sindungriwut untuk menerima tamu kadipaten. Di sebelah kiri bangsal srimanganti, terdapat ruangan khusus untuk menyimpan benda-benda pusaka kadipaten dan cendera mata dari kadipaten- kadipaten lain. Ruangan ini tertutup rapat dan selalu dijaga oleh kesatria-kesatria terpilih kadipaten ranggenah. Ruangan tempat menyimpan benda-benda pusaka dan cendera mata ini sering disebut kundalini mesem. Agak jauh disebelah kanan ruang kundalini terdapat sebuah ruangan yang senantiasa menebarkan aroma dupa. Ruang ini disebut ruang pamujan karena ditempat inilah sang adipati selalu mengadakan upacara dan kebaktian .beberapa meter dari ruang pamujan terdapat ruangan kecil dengan sebuah tempayan besar ditengahnya. Ruangan ini sering disebut dengan ruang reresik, karena ruangan ini sering digunakan untuk membersihkan diri sang adipati sebelum masuk ke ruang pamujan.
Contoh:
Bangunan itu terbagi dalam empat ruang.pada ruang pertama yang sering disebut dengan bangsal srimanganti, terdapat dua pasang kursi kayu ukiran jepara. Ruangan ini sering digunakan adipati sindungriwut untuk menerima tamu kadipaten. Di sebelah kiri bangsal srimanganti, terdapat ruangan khusus untuk menyimpan benda-benda pusaka kadipaten dan cendera mata dari kadipaten- kadipaten lain. Ruangan ini tertutup rapat dan selalu dijaga oleh kesatria-kesatria terpilih kadipaten ranggenah. Ruangan tempat menyimpan benda-benda pusaka dan cendera mata ini sering disebut kundalini mesem. Agak jauh disebelah kanan ruang kundalini terdapat sebuah ruangan yang senantiasa menebarkan aroma dupa. Ruang ini disebut ruang pamujan karena ditempat inilah sang adipati selalu mengadakan upacara dan kebaktian .beberapa meter dari ruang pamujan terdapat ruangan kecil dengan sebuah tempayan besar ditengahnya. Ruangan ini sering disebut dengan ruang reresik, karena ruangan ini sering digunakan untuk membersihkan diri sang adipati sebelum masuk ke ruang pamujan.
b) Urutan waktu(kronologis)
Yang menggambarkan urutan terjadinya peristiwa, perbuatan,
atau tindakan.
Contoh:
Menendang bola dengan sepatu baru dikenalnya sekitar tahun 1977, saat ia baru lulus dari stm negeri 3 jurusan teknik elektro. Yang pertama kali melatihnya adalah klub halilintar. Dari sini prestasinya terus menanjak hingga kemudian ia dapat bergabung dengan klub pelita jaya sampai sekarang. Tahun 1984 ia pernah dipanggil untuk memperkuat PSSI ke merdeka games di malaysia. Waktu ia dipanggil lagi untuk turnamen di Burnei tahun 1985, ia gagal memenuhinya karena kakinya cedera.
Contoh:
Menendang bola dengan sepatu baru dikenalnya sekitar tahun 1977, saat ia baru lulus dari stm negeri 3 jurusan teknik elektro. Yang pertama kali melatihnya adalah klub halilintar. Dari sini prestasinya terus menanjak hingga kemudian ia dapat bergabung dengan klub pelita jaya sampai sekarang. Tahun 1984 ia pernah dipanggil untuk memperkuat PSSI ke merdeka games di malaysia. Waktu ia dipanggil lagi untuk turnamen di Burnei tahun 1985, ia gagal memenuhinya karena kakinya cedera.
II. Teknik Klimaks Dan
Anti Klimaks
Antiklimaks dimulai dari informasi yang memiliki gradasi
tinggi (penting) menuju informasi yang gradasinya rendah.sedangkan teknik
klimaks dimulai dari hal yang gradasinya kurang penting menuju ke hal yang
gradasinya sangat penting.
a. Klimaks
a. Klimaks
Contoh:
Bentuk traktor mengalami perkembanagn dari zaman ke zaman seiring dengan kemajuan teknologi yang dicapai umat manusia. Pada waktu mesin uap baru jaya-jayanya, ada traktor yang dijalankan dengan mesin uap. Pada waktu tank menjadi pusat perhatian orang, traktor pun ikut-ikutan diberi model seperti tank. Keturunan traktor model tank ini sampai sekarang masih dipergunakan orang, yaitu traktor yang memakai roda rantai. Traktor semacam ini adalah hasil perusahaan carterpilar. Di samping carterpiler , ford pun tidak ketinggalan dalam pembuatan traktor dan alat-alat pertanian lainnya. Jepang pun tidak mau kalah bersaing dalam bidang ini.produk jepang yang khas di indonesia terkenal dengan nama padi traktor yang bentuknya sudah mengalami perubahan dari model-model sebelumnya.
Bentuk traktor mengalami perkembanagn dari zaman ke zaman seiring dengan kemajuan teknologi yang dicapai umat manusia. Pada waktu mesin uap baru jaya-jayanya, ada traktor yang dijalankan dengan mesin uap. Pada waktu tank menjadi pusat perhatian orang, traktor pun ikut-ikutan diberi model seperti tank. Keturunan traktor model tank ini sampai sekarang masih dipergunakan orang, yaitu traktor yang memakai roda rantai. Traktor semacam ini adalah hasil perusahaan carterpilar. Di samping carterpiler , ford pun tidak ketinggalan dalam pembuatan traktor dan alat-alat pertanian lainnya. Jepang pun tidak mau kalah bersaing dalam bidang ini.produk jepang yang khas di indonesia terkenal dengan nama padi traktor yang bentuknya sudah mengalami perubahan dari model-model sebelumnya.
Pikiran utama dari paragaraf diatas adalah ”bentuk traktor
mengalami perkembangan dari zaman ke zaman”. Pikiran utama itu kemudian dirinci
dengan gagasan:traktor yang dijalankan dengan mesin uap, traktor yang memakai
roda rantai, traktor buatan ford, dan traktor buatan Jepang.
Variasi dari klimaks adalah antiklimaks pengembangan dengan antiklimaks dilakukan dengan cara menguraikan gagasan dari yang paling tinggi kedudukannya, kemudian perlahan-lahan menurun ke gagasan lain yang lebih rendah.
Variasi dari klimaks adalah antiklimaks pengembangan dengan antiklimaks dilakukan dengan cara menguraikan gagasan dari yang paling tinggi kedudukannya, kemudian perlahan-lahan menurun ke gagasan lain yang lebih rendah.
III. Teknik Umum Khusus (Deduktif) Dan Khusus Umum (Induktif)
Teknik umum khusus dimulai dari gagasan utama dan dilanjutkan dengan hal khusus sebagai pengembanganya. Sedangkan teknik khusus umum dimulai dari hal-hal khusus yang merupakan penjelasan, kemudian disimpulkan menjadi hal satu gagasan umum. simpulan tersebut merupakan gagasan utama atau pokok pikiran paragraf tersebut.
Contoh:
a. Deduktif
a. Deduktif
Salah satu kedudukan bahasa indonesia adalah sebagai bahasa
nasional. Kedudukan ini dimiliki sejak dicetuskannya sumpah pemuda pada tanggal
28 oktober 1928. Kedudukan ini mungkinkan oleh kenyataan bahwa bahasa melayu
yang mendasari bahasa indonesia telah menjadi lingua franca selama berabad-abad
diseluruh tanah air kita. Hal ini ditunjang lagi oleh faktor tidak terjadinya
persaingan bahasa, maksudnya persaingan bahasa daerah yang satu dengan bahasa
daerah yang lain untuk mencapai kedudukannya sebagai bahasa nasional.
b. Induktif
Dokumen-dokumen dan keputusan – keputusan serta surat
menyurat yang dikeluarkan pemerintah dan badan-badan kenegaraan lainnya ditulis
dalam bahasa indonesia.pidato-pidato,terutama pidato kenegaraan ,ditulis dan
diucapkan dengan bahasa indonesia .hanya dalam keadaan tertentu ,demi
kepentingan antar bangsa kadang-kadang pidato resmi ditulis dan diucapkan dalam
bahasa asing,terutama bahasa inggris.demikian juga pemakaian bahasa indonesia
oleh masyarakat indonesia dalam upacara,peristiwa,dan kegiatan
kenegaraan.dengan kata lain,komunikasi timbal balik antara pemerintah dengan
masyarakat berlangsung dengan menggunakan bahasa Indonesia.
IV. Teknik Perbandingan Dan Pertentangan.
Teknik ini mencoba memperjelas gagasan utama dengan jalan
membandingkan dan mempertentangan hal-hal yang dibicirakan. Dalam hal ini
penulis ini menunjukkan persamaan dan perbandingan antara dua hal. Hal-hal yang
dapat dibandingkan adalah tingkat kesamaan dan perbedaan kedua hal tersebut.dan ungkapan yang biasa digunakan
seperti:(berbeda dari, bertentangan dengan, sedangkan, lain halnya dengan, akan
tetapi, dan bertolak belakang dari), ini dalam pertentangan.(serupa dengan,
seperti halnya, demikian juga, sama dengan, sejalan dengan, akan tetapi,
sedangkan, dan sementara itu), ini dalam perbandingan.
a. Perbandingan.
a. Perbandingan.
Contoh:
Seruan”kiri”!seorang penumpang angkot untuk turun dri mobil yang ditumpanginya, misalnya di bandung, mungkin tidak lazim di beberapa daerah lain seperti: manado, gorontalo, dan malaysia, yang membuat para penumpang serempak menengok kekiri. Seperti halnya di bandung, di jakarta juga menggunakan seruan“kiri”untuk menghentikan angkot. Akan tetapi, di manado kata yang di serukan yaitu”muka”, sementara itu, seruan”minggir!”lazim di gunakan di daerah lampung untuk menandakan penumpang yang akan berhenti .lain halnya dengan di padang, meskipun penumpang yang turun lebih dari satu atau mungkin seluruh penumpangnya, kata seruan yang di gunakan”siko cieh!”yang berarti”di sini satu!”.
Seruan”kiri”!seorang penumpang angkot untuk turun dri mobil yang ditumpanginya, misalnya di bandung, mungkin tidak lazim di beberapa daerah lain seperti: manado, gorontalo, dan malaysia, yang membuat para penumpang serempak menengok kekiri. Seperti halnya di bandung, di jakarta juga menggunakan seruan“kiri”untuk menghentikan angkot. Akan tetapi, di manado kata yang di serukan yaitu”muka”, sementara itu, seruan”minggir!”lazim di gunakan di daerah lampung untuk menandakan penumpang yang akan berhenti .lain halnya dengan di padang, meskipun penumpang yang turun lebih dari satu atau mungkin seluruh penumpangnya, kata seruan yang di gunakan”siko cieh!”yang berarti”di sini satu!”.
b. Pertentangan
Contoh:
“orde 1998-2006. Atau orde politik Indonesia kinijau berbedah dari”orde 1997-1998.” Ini menyebabkan kehidupan dan penegakan hokum dalam kedua priode orde itu juga berbedah besar. Orde pemerintah Soeharto memiliki kecendrungan kuat ke arah sentralisme, otoriter, dan represif. Kekuasaan politik dengan efisien dan efektif mengendalikan kekuasaan publik, baik legislatif, eksekutif, maupun yudikatif. Meski peraturan yang membolehkan campur tangan presiden kedalam penngadilan dicabut dalam priode itu, tetapi pencabutan itu tidak dapat menahan kekuatan politik Soeharto untul mencampuri urusan pengadilan. Sejak 1998, orde politik disebut reformasi bertolak belakang dengan watak orde sebelumnya.
“orde 1998-2006. Atau orde politik Indonesia kinijau berbedah dari”orde 1997-1998.” Ini menyebabkan kehidupan dan penegakan hokum dalam kedua priode orde itu juga berbedah besar. Orde pemerintah Soeharto memiliki kecendrungan kuat ke arah sentralisme, otoriter, dan represif. Kekuasaan politik dengan efisien dan efektif mengendalikan kekuasaan publik, baik legislatif, eksekutif, maupun yudikatif. Meski peraturan yang membolehkan campur tangan presiden kedalam penngadilan dicabut dalam priode itu, tetapi pencabutan itu tidak dapat menahan kekuatan politik Soeharto untul mencampuri urusan pengadilan. Sejak 1998, orde politik disebut reformasi bertolak belakang dengan watak orde sebelumnya.
V. Teknik Analogi
Teknik ini digunakan untuk membandingkan atau menyamakan
sesuatu dengan yang sudah dikenal dengan yang kurang dikenal tersebut. Analogi
juga biasa dilakukan seseorang dalam membuat simpulan yang didasarkan atas
sesuatu yang sudah ada. Akan tetapi, model berpikir analogi ini tidak selalu
benar. Untuk itu dalam karya ilmiah jarang digunakan kata-kata yang biasa
digunakan yaitu: ibaratnya, seperti, dan bagaikan.
Contoh:
Dalam persoalan poso, kita memang diingatkan bahwa penanganannya tidaklah mudah. Ibaratnya kita diminta untuk memegang telur. Kalau terlalu keras memegangnya, telur itu akan pecah, tetapi kalau terlalu longgar juga akan pecah karena akan terlepas dari tangan. Kita harus menanganinya secara tepat dan harus menjadi perhatian kita bersama janganlah masalah ini membuat kita sebagai bangsa menjadi pecah.kasihan para pahlawan dan mereka yang berharap masa depan.”(kompas,2006:6).
Dalam persoalan poso, kita memang diingatkan bahwa penanganannya tidaklah mudah. Ibaratnya kita diminta untuk memegang telur. Kalau terlalu keras memegangnya, telur itu akan pecah, tetapi kalau terlalu longgar juga akan pecah karena akan terlepas dari tangan. Kita harus menanganinya secara tepat dan harus menjadi perhatian kita bersama janganlah masalah ini membuat kita sebagai bangsa menjadi pecah.kasihan para pahlawan dan mereka yang berharap masa depan.”(kompas,2006:6).
VI. Teknik
Contoh-contoh
Teknik ini memberikan hal yang konkret yang dapat memberikan
bukti atau penjelasan kepada pembaca yang bersifat lebih umum, hal tersebut
biasa disebut generalisasi. Pengambilan simpulan secara generalisasi diperlukan
contoh-contoh yang valid,sehingga dapat disimpulkan dengan tepat(benar).kata
yang biasa digunakan: seperti, misalnya, dan contohnya.
Contoh:
Selain tipe introver, sifat manusia yaitu ekstrover. Tipe ekstrover yaitu orang-orang yang perhatiannya lebih diarahkan keluar dirinya, kepada orang lain, dan kepada masyarakat.orang yang tergolong tipe ekstrover memiliki sifat-sifat tertentu contohnya berhati terbuka, lancar dalam pergaulan, ramah tamah, penggembira,mudah memengaruhi,dan mudah dipengaruhi oleh orang lain.(purwanto,1984:147)
Selain tipe introver, sifat manusia yaitu ekstrover. Tipe ekstrover yaitu orang-orang yang perhatiannya lebih diarahkan keluar dirinya, kepada orang lain, dan kepada masyarakat.orang yang tergolong tipe ekstrover memiliki sifat-sifat tertentu contohnya berhati terbuka, lancar dalam pergaulan, ramah tamah, penggembira,mudah memengaruhi,dan mudah dipengaruhi oleh orang lain.(purwanto,1984:147)
VII. Teknik Sebab Akibat
Teknik sebab akibat dapat diwujudkan dengan melihat hubungan
antar kalimat dalam paragraf. Hubungan kalimat yang satu dengan yang lain dapat
berbentuk sebab-akibat.sebab dapat
berfungsi sebagai kalimat utama.dan
akibat sebagai kalimat penjelasnya. Dapat pula sebaliknya,akibat sebagai
kalimat utama dan dijelaskan dengan beberapa penyebab sebagai perinciannya
sehingga pembaca mudah memahami.kata yang
biasa dipakai yaitu: padahal, akibatnya, oleh karena itu, dan karena.
Contoh:
Seharusnya Indonesia telah menerapkan negara kesejahteraan sejak awal kemerdekaan. Program jamsostek baru dimulai pada 1976 sehingga indonesia tertinggal membentuk tabungan nasional. Padahal, malaysia telah memulainya sejak 1959. Akibatnya, saat krisis melanda asia pada 1997/1998, indonesia paling sulit untuk bangkit lagi. Oleh karena itu,indonesia perlu melakukan reformasi penyelenggaraan program jaminan sosial.
Seharusnya Indonesia telah menerapkan negara kesejahteraan sejak awal kemerdekaan. Program jamsostek baru dimulai pada 1976 sehingga indonesia tertinggal membentuk tabungan nasional. Padahal, malaysia telah memulainya sejak 1959. Akibatnya, saat krisis melanda asia pada 1997/1998, indonesia paling sulit untuk bangkit lagi. Oleh karena itu,indonesia perlu melakukan reformasi penyelenggaraan program jaminan sosial.
VIII. Teknik Definisi Luas
Teknik ini merupakan pemberian penjelasan tentang sesuatu
dengan beberapa kalimat untuk memperjelas definisi.kadang-kadang penulis
terpaksa menguraikan penjelasan tersebut ke dalam beberapa kalimat,dan bahkan
beberapa alinea.dan kata-kata yang biasa
digunakan yaitu: adalah,yaitu,ialah,merupakan.
Adalah: Biasanya digunakan jika sesuatu yang akan didefinisikan diawali dengan kata benda.
Adalah: Biasanya digunakan jika sesuatu yang akan didefinisikan diawali dengan kata benda.
Yaitu: Digunakan jika sesuatu yang akan didefinisikan diawali
dengan kata kerja atau sifat.
Ialah: Digunakan jika akan menjelaskan sinonim,
Merupakan: Jika akan mendefinisikan pengertian rupa atau
wujud.
Contoh:
Apakah psikologi itu?R.S Woodworth berpendapat,”psikologi adalah ilmu jiwa .”sedangkan menurut crow dan crow “psikologi adalah kejiwaan manusia dalam berinteraksi dengan dunia sekitarnya.”sementara itu, santian mengemukakan bahwa psikologi merupakan perwujudan tingkah laku manusia.
Apakah psikologi itu?R.S Woodworth berpendapat,”psikologi adalah ilmu jiwa .”sedangkan menurut crow dan crow “psikologi adalah kejiwaan manusia dalam berinteraksi dengan dunia sekitarnya.”sementara itu, santian mengemukakan bahwa psikologi merupakan perwujudan tingkah laku manusia.
IX. Teknik Klasifikasi
Teknik ini merupakan penggunaan cara pengelompokkan hal-hal
yang sama untuk memperjelas kalimat utama. Pada mulanya penulis mengelompokkan
suatu hal berdasarkan persamaannya, Kemudian diperinci lagi lebih lanjut
kedalam kelompok-kelompok yang lebih kecil dan detail. Pengelompokkan yang
didasarkan pada persamaan biasanya dapat memberikan sebuah simpulan yang tepat.
Contoh:
Dalam karang mengarang atau tulis menulis, dituntut beberapa kemampuan antara lain kemampuan yang berhubungan dengan kebahasaan dan kemampuan pengembangan atau penyajian.Yang termasuk kemampuan kebahasaan adalah kemampuan menerapkan ejaan,pungtuasi,kosa kata, diksi, dan kalimat. Sedangkan yang dimaksud dengan kemampuan pengembangan ialah kemampuan menata paragraf, kemampuan membedakan pokok bahasan, subpokok bahasan, dan kemampuan membagi pokok bahasan dalam urutan yang sistematik.
Contoh:
Dalam karang mengarang atau tulis menulis, dituntut beberapa kemampuan antara lain kemampuan yang berhubungan dengan kebahasaan dan kemampuan pengembangan atau penyajian.Yang termasuk kemampuan kebahasaan adalah kemampuan menerapkan ejaan,pungtuasi,kosa kata, diksi, dan kalimat. Sedangkan yang dimaksud dengan kemampuan pengembangan ialah kemampuan menata paragraf, kemampuan membedakan pokok bahasan, subpokok bahasan, dan kemampuan membagi pokok bahasan dalam urutan yang sistematik.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
·
Paragraf
merupakan bagian karangan yang terdiri atas beberapa kalimat yang berkaitan
secara utuh dan padu serta membentuk satu kesatuan pikiran.
·
Suatu
paragraf bukanlah merupakan kumpulan atau deretan kalimat yang masing-masing
berdiri sendiri atau terlepas, melainkan dibangun oleh kalimat-kalimat yang
memiliki hubungan timbal balik.
·
Pengembangan
paragraf tidak dapat dilakukan secara sembarangan, tidak boleh terdapat unsur
yang sama sekali tidak berhubungan dengan topik, dan tidak mendukung topik.
Penyimpangan pengembangan paragraf akan menyulitkan pembaca, akan mengakibatkan
paragraf tidak efektif.
B. Saran
·
Dalam
menyusun suatu paragraf hendaknya sesuai dengan ketentuan atau syarat-syarat
yang telah ada, sehingga mempermudah dalam membaca dan dapat mengetahui isi
dari suatu paragraf dengan mudah.
·
Khususnya
bagi Pelajar atau Mahasiswa hendaknya mau memahami bagaimana cara mengembangkan
suatu tulisan-tulisan agar menjadi suatu paragraf yang baik dan benar.
DAFTAR PUSTAKA
Nasucha,
Yakub Drs. M. Hum dkk.2009.Bahasa
Indonesia untuk Penulisan Karya Tulis Ilmiah.Yogyakarta:Media Perkasa.
Wagiran, Mukh Doyin.2012.Bahasa Indonesia untuk Pengantar Penulisan Karya Ilmiah.Semarang:UNNES
Press.